Minggu, 26 April 2020

Dari Mata Turun ke Hati



Syaiful adalah seorang sarjana yang tak mengenal kata lelah untuk mencari pekerjaan. Dia adalah sarjana teknik yang baru lulus kuliah dengan nilai sangat memuaskan. Namun setiap melamar pekerjaan di kantor atau perusahaan, selalu terbentur dengan pengalaman kerja. Bagaimana bisa mempunyai pengalaman kerja kalau Syaiful baru lulus kuliah.
Setelah dua bulan Syaiful tak kunjung mendapat penggilan, akhirnya dia membuka bengkel kecil-kecilan. Dengan modal seadanya, dia memanfaatkan halaman rumahnya yang berada di pinggir jalan, untuk membuka usaha bengkel.

“Iful, kamu nggak malu kerja dengan obeng dan oli? Kamu kan sarjana, harusnya kerja di kantoran. Pakai kemeja dan dasi. Pasti keren deh..” tanya Dodo, tukang ojeg yang selalu mangkal di depan bengkel Syaiful.

Mendengar pertanyaan  Dodo, Syaiful hanya tersenyum. karena ini bukan pertanyaan pertama yang diajukan Dodo. Bahkan hampir setiap bertemu Dodo bertanya hal itu. Bukan untuk mengejek Syaiful tapi karena dia benar-benar tidak habis pikir, mengapa seorang sarjana yang cerdas seperti Syaiful sangat susah mencari pekerjaan.

“Untung akang nggak kuliah. Selain nggak ada biaya, akang dulu memang paling pusing kalau disuruh belajar. Otak akang rasanya langsung ngehang. Mending langsung cari kerja aja biar punya penghasilan sendiri,” lanjut Dodo.

“Ah, Kang Dodo bisa aja,” jawab Syaiful sambil tersenyum.

“Kalau saya mau kerja apa aja asal halal,” lanjutnya.

“Benar itu! apa aja asal halal. Setuju banget akang!” Dodo menepuk-tepuk pundak Syaiful dengan bangga. Bangga pada anak muda seperti Syaiful yang mau hidup mandiri, tidak banyak gaya, sopan, dan yang terpenting dia rajin sholatnya.

“Tapi nggak sayang gitu ijazahnya jadi nggak kepake?” tanya Dodo lagi.
“Ijazah hanya formalitas saja, Kang. Yang penting punya kemauan, ilmu, dan keterampilan” jawab Syaiful dengan tenangnya.

“Maksud kamu?” dahi Dodo berkerut karena bingung. Tidak mengerti dengan jawaban dari Syaiful.

“Contoh sederhananya saja ya, kalau motor Akang mogok apa yang Akang lakukan?”

“Ya ke bengkellah. Bisa aja sih akang bongkar sendiri motornya, tapi nanti nggak bisa pasangnya lagi. Bisa-bisa malah berubah jadi odong-odong,” jawab Dodo disusul senyuman dari Syaiful.

“Nah, kalau kita tahu ilmunya, kita bisa bongkar sendiri motornya, dicek sendiri, diperbaiki sendiri. Jadi iritkan tidak harus bayar ke bengkel,” jawab Syaiful.

“Bener juga ya, jadi ilmunya tetap bermanfaat ya,”

Saat Syaiful dan Dodo sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mata Syaiful menangkap sesosok yang indah yang bergerak menuju mereka. Seorang gadis dengan penampilan sederhana namun terlihat bersahaja dengan gamis biru yang dikenakannya. Kerudung panjang dengan warna senada bergerak-gerak tertiup angin. Sesekali dia pegang ujung kerudungnya supaya tidak tersibak lebih tinggi dan memperlihatkan rambutnya. Semakin lama, dia semakin dekat menghampiri.

Dodo yang mulai menyadari perhatian temannya, langsung menepuk lembut bahu Syaiful.

“Namanya Riani,” bisik Dodo pada Syaiful.

“Hah, Riani? Panggilannya Rian dong,” tanya Syaiful sambil tersenyum geli.

“Ya nggaklah, tetap dipanggil Riani. Dia calon guru matematika, masih kuliah tingkat akhir,” lanjut Dodo.

“Ooh..” Syaiful mengangguk.

“Dia sedang mencari calon suami yang sholeh,” kata Dodo.

“Hmm..” terselip sedikit harapan Syaiful bisa meminangnya.

“Rumahnya di kampung sebelah, depan lapangan bola. Rumahnya yang bercat hijau muda, pas di belakang gawang,” lanjut Dodo semakin bersemangat.

“Kok akang tahu banyak?” Syaiful baru menyadari kalau Dodo telah banyak memberinya informasi penting.

Sebelum Dodo menjawab, gadis yang bernama Riani itu sudah berada beberapa langkah di hadapan Dodo dan Syaiful. Lalu Riani tersenyum, semakin manis saat kedua tulang pipinya yang berwarna kemerah-merahan terlihat menonjol. Melihat senyuman Riani, Saiful jadi salah tingkah. Jantungnya pun berdetak lebih cepat. Dia hendak membalas senyuman Riani, tapi tiba-tiba Riani mendatangi Dodo dan langsung menyalaminya.

“Assalamualaikum!” Riani memberikan salam.

“Waalaikumsalam!” jawab Dodo dan Syaiful berbarengan. Bedanya jawaban Syaiful terdengar lebih lemah karena bingung.

“Om, bisa minta tolong antar ke kampus nggak?” tanya Riani pada Dodo.

“Bisa.. mau diantar sama Om atau teman Om? Sekalian kenalan sama sarjana teknik nih,” goda Dodo. Senyum nakalnya tersungging di ujung bibirnya.

Mulut Syaiful menganga, kaget dengan apa yang didengarnya.

“Iful biasa aja kali mulutnya!” lagi-lagi Dodo menggoda Syaiful.

“Ini ponakan Akang. Riani, ini Syaiful teman ngobrol om kalau lagi mangkal. Dia sarjana teknik yang sedang merintis usaha bengkel ini,” Dodo berkata memperkenalkan Riani yang ternyata keponakannya. Syaiful jadi malu. Wajahnya langsung menunduk menahan malu.

“Nggak usah malu-malu gitu, ayo cepat anterin ponakan akang ke kampus. Antarkan sampai pintu kelasnya dengan selamat!” perintah Dodo.

“Si..siap, Kang!” jawab Syaiful masih malu-malu. Ada rasa bahagia menyelinap di relung hatinya.
Riani pun tersenyum mendengar ucapan omnya. Kemudian dia menggunakan helm biru muda yang disodorkan Syaiful.

“Meski akang dan keluarga besar akang nggak ada yang makan bangku kuliahan, tapi keturunan kami diusahakan harus jadi sarjana. Harus berpendidikan, supaya taraf hidupnya bisa lebih baik daripada kami orang tuanya,” ucap Dodo sebelum Syaiful dan Riani berangkat.

“Setuju, Kang! Apalagi zaman sekarang, pendidikan sangat penting dalam kehidupan.” seru Syaiful.

“Kami berangkat ya, Assalamualaikum!” sambungnya.

Syaiful dan Riani pun pergi meninggalkan Dodo sendiri di bengkel Syaiful. Hanya semilir angin yang menemani Dodo duduk di atas motornya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar