Syaiful adalah seorang sarjana yang tak mengenal
kata lelah untuk mencari pekerjaan. Dia adalah sarjana teknik yang baru lulus
kuliah dengan nilai sangat memuaskan. Namun setiap melamar pekerjaan di kantor
atau perusahaan, selalu terbentur dengan pengalaman kerja. Bagaimana bisa
mempunyai pengalaman kerja kalau Syaiful baru lulus kuliah.
Setelah dua bulan Syaiful tak kunjung mendapat
penggilan, akhirnya dia membuka bengkel kecil-kecilan. Dengan modal seadanya,
dia memanfaatkan halaman rumahnya yang berada di pinggir jalan, untuk membuka
usaha bengkel.
“Iful, kamu nggak malu kerja dengan obeng dan
oli? Kamu kan sarjana, harusnya kerja di kantoran. Pakai kemeja dan dasi. Pasti
keren deh..” tanya Dodo, tukang ojeg yang selalu mangkal di depan bengkel Syaiful.
Mendengar pertanyaan Dodo, Syaiful hanya tersenyum. karena ini
bukan pertanyaan pertama yang diajukan Dodo. Bahkan hampir setiap bertemu Dodo
bertanya hal itu. Bukan untuk mengejek Syaiful tapi karena dia benar-benar
tidak habis pikir, mengapa seorang sarjana yang cerdas seperti Syaiful sangat
susah mencari pekerjaan.
“Untung akang nggak kuliah. Selain nggak ada
biaya, akang dulu memang paling pusing kalau disuruh belajar. Otak akang rasanya
langsung ngehang. Mending langsung cari kerja aja biar punya penghasilan
sendiri,” lanjut Dodo.
“Ah, Kang Dodo bisa aja,” jawab Syaiful sambil
tersenyum.
“Kalau saya mau kerja apa aja asal halal,”
lanjutnya.
“Benar itu! apa aja asal halal. Setuju banget
akang!” Dodo menepuk-tepuk pundak Syaiful dengan bangga. Bangga pada anak muda
seperti Syaiful yang mau hidup mandiri, tidak banyak gaya, sopan, dan yang
terpenting dia rajin sholatnya.
“Tapi nggak sayang gitu ijazahnya jadi nggak
kepake?” tanya Dodo lagi.
“Ijazah hanya formalitas saja, Kang. Yang
penting punya kemauan, ilmu, dan keterampilan” jawab Syaiful dengan tenangnya.
“Maksud kamu?” dahi Dodo berkerut karena
bingung. Tidak mengerti dengan jawaban dari Syaiful.
“Contoh sederhananya saja ya, kalau motor Akang
mogok apa yang Akang lakukan?”
“Ya ke bengkellah. Bisa aja sih akang bongkar sendiri
motornya, tapi nanti nggak bisa pasangnya lagi. Bisa-bisa malah berubah jadi
odong-odong,” jawab Dodo disusul senyuman dari Syaiful.
“Nah, kalau kita tahu ilmunya, kita bisa bongkar
sendiri motornya, dicek sendiri, diperbaiki sendiri. Jadi iritkan tidak harus
bayar ke bengkel,” jawab Syaiful.
“Bener juga ya, jadi ilmunya tetap bermanfaat
ya,”
Saat Syaiful dan Dodo sedang asyik mengobrol,
tiba-tiba mata Syaiful menangkap sesosok yang indah yang bergerak menuju mereka.
Seorang gadis dengan penampilan sederhana namun terlihat bersahaja dengan gamis
biru yang dikenakannya. Kerudung panjang dengan warna senada bergerak-gerak
tertiup angin. Sesekali dia pegang ujung kerudungnya supaya tidak tersibak lebih
tinggi dan memperlihatkan rambutnya. Semakin lama, dia semakin dekat
menghampiri.
Dodo yang mulai menyadari perhatian temannya, langsung
menepuk lembut bahu Syaiful.
“Namanya Riani,” bisik Dodo pada Syaiful.
“Hah, Riani? Panggilannya Rian dong,” tanya Syaiful
sambil tersenyum geli.
“Ya nggaklah, tetap dipanggil Riani. Dia calon
guru matematika, masih kuliah tingkat akhir,” lanjut Dodo.
“Ooh..” Syaiful mengangguk.
“Dia sedang mencari calon suami yang sholeh,” kata
Dodo.
“Hmm..” terselip sedikit harapan Syaiful bisa
meminangnya.
“Rumahnya di kampung sebelah, depan lapangan
bola. Rumahnya yang bercat hijau muda, pas di belakang gawang,” lanjut Dodo semakin
bersemangat.
“Kok akang tahu banyak?” Syaiful baru menyadari
kalau Dodo telah banyak memberinya informasi penting.
Sebelum Dodo menjawab, gadis yang bernama Riani itu
sudah berada beberapa langkah di hadapan Dodo dan Syaiful. Lalu Riani
tersenyum, semakin manis saat kedua tulang pipinya yang berwarna
kemerah-merahan terlihat menonjol. Melihat senyuman Riani, Saiful jadi salah
tingkah. Jantungnya pun berdetak lebih cepat. Dia hendak membalas senyuman Riani,
tapi tiba-tiba Riani mendatangi Dodo dan langsung menyalaminya.
“Assalamualaikum!” Riani memberikan salam.
“Waalaikumsalam!” jawab Dodo dan Syaiful
berbarengan. Bedanya jawaban Syaiful terdengar lebih lemah karena bingung.
“Om, bisa minta tolong antar ke kampus nggak?”
tanya Riani pada Dodo.
“Bisa.. mau diantar sama Om atau teman Om?
Sekalian kenalan sama sarjana teknik nih,” goda Dodo. Senyum nakalnya
tersungging di ujung bibirnya.
Mulut Syaiful menganga, kaget dengan apa yang
didengarnya.
“Iful biasa aja kali mulutnya!” lagi-lagi Dodo
menggoda Syaiful.
“Ini ponakan Akang. Riani, ini Syaiful teman ngobrol
om kalau lagi mangkal. Dia sarjana teknik yang sedang merintis usaha bengkel
ini,” Dodo berkata memperkenalkan Riani yang ternyata keponakannya. Syaiful
jadi malu. Wajahnya langsung menunduk menahan malu.
“Nggak usah malu-malu gitu, ayo cepat anterin
ponakan akang ke kampus. Antarkan sampai pintu kelasnya dengan selamat!” perintah
Dodo.
“Si..siap, Kang!” jawab Syaiful masih malu-malu.
Ada rasa bahagia menyelinap di relung hatinya.
Riani pun tersenyum mendengar ucapan omnya.
Kemudian dia menggunakan helm biru muda yang disodorkan Syaiful.
“Meski akang dan keluarga besar akang nggak ada
yang makan bangku kuliahan, tapi keturunan kami diusahakan harus jadi sarjana.
Harus berpendidikan, supaya taraf hidupnya bisa lebih baik daripada kami orang
tuanya,” ucap Dodo sebelum Syaiful dan Riani berangkat.
“Setuju, Kang! Apalagi zaman sekarang,
pendidikan sangat penting dalam kehidupan.” seru Syaiful.
“Kami
berangkat ya, Assalamualaikum!” sambungnya.
Syaiful dan Riani pun pergi meninggalkan Dodo
sendiri di bengkel Syaiful. Hanya semilir angin yang menemani Dodo duduk di
atas motornya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar